Kejayaan Kereta Api, antara Ambarawa-Kedungjati

September 24, 2007 at 2:21 am (Salatiga Raya)

Ingin memiliki sensasi kepuasan naik kereta api uap? Datang saja ke Jawa Tengah, tepatnya ke Ambarawa, Kabupaten Semarang. Di kota kecil berhawa sejuk ini Anda dapat menikmati paket wisata kereta api uap bergigi dengan pemandangan khas pedesaan.Paket wisata ini terbilang unik. Unik karena kereta api bergerigi itu ketika tiba di Stasiun Jambu, lokomotif B25-nya akan dilangsir ke gerbong paling belakang. Loko ini selanjutnya mendorong rangkaian gerbong menuju Stasiun Bedono, dengan cengkeraman gigi besinya pada tengah bantalan rel yang dibuat khusus pula.

Selain menikmati sensasi kereta api uap bergerigi, di Stasiun KA Willem I Ambarawa-Museum Kereta Api itu kita dapat menyaksikan sejarah lokomotif uap yang pernah melintas di jalur rel Jawa. Di halaman stasiun peninggalan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij tersebut terpajang sekitar 24 lokomotif kuno buatan tahun 1891-1966.

Di halaman itu kita bebas mengabadikan gambar bersama lokomotif-lokomotif kuno yang perkasa. Misalnya, lokomotif CC50 ini buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda, ini dijuluki Bergkoningin alias Ratu Pegunungan. Julukan dalam bahasa Belanda ini didapat CC 50 karena lokomotif dengan tahun produksi 1927 itu mampu melewati jalur pegunungan dengan tikungan-tikungan tajam.

Ada juga lokomotif kebanggaan perusahaan kereta api milik pemerintah Kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS), C28. Loko buatan Henschel, Jerman, ini tercatat sebagai loko tercepat di seluruh dunia untuk ukuran rel sempit (1.067 mm) pada era 1920-an. Kecepatannya pada masa itu bisa mencapai 120 kilometer per jam.

Masih ada sejumlah lokomotif kuno lainnya, seperti loko F10, lokomotif buatan Hanomag, Jerman, dengan enam pasang roda penggerak. Konon, keberadaan loko ini tergolong langka dan jarang ditemukan di belahan dunia lainnya. Lokomotif lainnya C54, loko kebanggaan Semarang Cheribon Stoomtram Maatscappij (SCS); dan loko C51, loko kebanggaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS).

SEBENARNYA lintasan rel di wilayah Jawa Tengah yang menarik untuk dijelajahi bukan hanya di lintas Ambarawa-Bedono. Lintasan rel di Stasiun Ambarawa itu juga bisa dihubungkan ke Stasiun Tuntang, Kabupaten Semarang. Pemandangan pada rute Ambarawa-Tuntang tak kalah menariknya. Keelokan Danau Rawa Pening akan menyapa para penumpang kereta wisata di rute tersebut.

Sayangnya, hingga kini, baru satu rangkaian kereta lori motor yang beroperasi pada rute tersebut. Kondisi rel yang umumnya didominasi jenis rel R 25 dan R 33 dengan bantalan campuran antara kayu dan besi, serta jarak antara bantalan selebar 120 sentimeter, menyebabkan lintasan ini belum bisa dilalui lokomotif uap semacam B25.

Keindahan panorama pada rute Ambarawa-Tuntang sebenarnya tidak berhenti pada keelokan Danau Rawa Pening. Lebih kurang sekitar dua kilometer dari Stasiun Tuntang terdapat Agrowisata Tlogo milik Pemerintah Provinsi Jateng dengan fasilitas penginapan di tengah kebun kopi dan karet.

Di perkebunan peninggalan Tlogo Maatscappij Amsterdam tahun 1856 itu kita bisa menikmati suasana hening perkebunan dengan panorama Gunung Rong (675 meter). Dari puncak gunung ini Anda bisa menyaksikan kecantikan Danau Rawa Pening, sepasang Gunung Merbabu dan Merapi di sisi selatan, serta Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran di bagian utara.

Perjalanan wisata kereta api ini bisa dilanjutkan, tetapi tidak dengan kereta api uap maupun lori motor. Lintasan rel antara Stasiun Tuntang ke Stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan saat ini sudah menjadi ladang dan permukiman penduduk. Hanya pada daerah tertentu masih dapat dilihat batang besi rel kereta menyembul dari tanah ladang tersebut.

Bukan berarti perjalanan wisata sekaligus napak tilas sejarah rel Ambarawa-Kedungjati berakhir begitu saja. Di Desa Karanganyar, Kecamatan Tuntang, dapat kita temui Jembatan Nganggrong, bangunan yang menjadi saksi kejayaan lintasan Ambarawa-Kedungjati. Jembatan peninggalan zaman Kolonial Belanda tersebut hingga kini masih berdiri dengan kokoh, akan tetapi batangan rel di tubuh jembatan itu sudah tidak ada lagi, hanya tersisa balas (batu kerikil) yang telah tertutup tanaman liar.

Stasiun berikutnya, setelah Jembatan Nganggrong yang masih bisa dilihat, adalah Stasiun Bringin. Sayangnya, kondisi stasiun ini pun memprihatinkan. Bangunan megah itu kini telah berubah menjadi rumah walet. Lintasan rel di stasiun ini sudah tertutup jalan semen dan di kiri kanan stasiun pun telah berdiri rumah-rumah walet lainnya. Satu-satunya ciri penanda bahwa bangunan ini dulunya stasiun adalah peralatan sinyal kereta api yang telah berkarat dan berdebu di emplasemen stasiun.

Lintasan rel dari Stasiun Bringin hingga Stasiun Kedungjati saat ini sudah sulit untuk ditemui lagi. Selain telah tertutup aspal dan bangunan rumah penduduk, Jembatan Tempuran yang menghubungkan Stasiun Gogodalem dan Stasiun Tempuran, sejak akhir tahun 1970, telah runtuh. Sungguh suatu pekerjaan rumah besar bagi mereka yang ingin menghidupkan kembali kejayaan kereta Ambarawa-Kedungjati pada lintasan sepanjang 37 km itu.

Kisah perjalanan wisata kereta api masih berlanjut di Stasiun Tanggung dan Stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan. Keduanya adalah dua stasiun KA tertua di Indonesia, yang hingga kini bangunannya masih terpelihara dengan baik.

Menikmati kesederhanaan bangunan Stasiun Tanggung yang telah dipugar pada tahun 1910 itu adalah kepuasan tersendiri. Siapa sangka, stasiun yang saat ini tidak disinggahi kereta api tersebut adalah stasiun KA pertama di Indonesia. Di stasiun dengan dinding masih berupa kayu jati bercat putih itu kita akan menemui lemari kayu penyimpanan karcis kereta api zaman dahulu, lengkap dengan rute-rute tujuan.

Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan rel KA pertama antara Semarang Kemijen dan Tanggung sejauh 25 km dan resmi digunakan untuk umum pada 10 Agustus 1867. Satu-satunya bangunan modern yang dapat dilihat di stasiun ini adalah ruangan sinyal berukuran 4 x 2,5 meter, yang menempati areal bekas peron stasiun.

Stasiun Tanggung bukanlah satu-satunya stasiun KA tertua di Indonesia yang mampu menyedot kekaguman pengunjung. Sekitar 10 kilometer dari Stasiun Tanggung kemegahan bangunan Stasiun Kedungjati akan segera terpampang.

Bangunan dengan arsitektur klasik seperti bangunan Stasiun Willem I Ambarawa itu resmi dioperasikan pada 21 Mei 1873. Peresmian Stasiun Kedungjati pada Mei 1873 itulah yang sekaligus menandai beroperasinya lintas Ambarawa-Kedungjati untuk pertama kalinya.

Ditilik dari segi arsitekturnya, bangunan ini dari awal dibangun dengan skala publik sehingga kualitas material, seperti baja untuk rangka emplasemen, dibuat mampu bertahan hingga ratusan tahun. Keduanya berfungsi untuk stasiun transit pasukan Belanda.

Mengagumi keelokan arsitektur bangunan stasiun dan kereta api uap di lintas Ambarawa-Kedungjati seolah menarik orang kembali pada kejayaan perkeretaapian Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Masa kejayaan inilah yang menjadi daya tarik dan aset berharga PT KA yang sepatutnya dilestarikan.

14 Komentar

  1. Heru P said,

    Bulan Juni 2009 nanti kami akan coba naik kereta Ambarawa

  2. pedri said,

    aset negar a harus dijaga dan dirawat

  3. Janbom said,

    kangen eui … dulu pernah pemetaan geologi ke sana … Tuntang, Kedungjati … Benar-benar memori yang tak terlupakan … Love you, Kedungjati …

  4. iing07 said,

    kapan main 2 lagi mas?

  5. Erwin Hudoyono said,

    Di Kedungjati sedikit orang yang tau, bahwa masa dahulu dikota ini telah lahir orang yang dicintai dan disayangi oleh seluruh umat manusia bermacam-macam Agama dan Bangsa.
    Dan bagi mereka yang lahir dan dibesarkan dikota Kedungjati dapat berbangga hati kalau membaca autobiografinya orang tersebut.

    Salam hormat

    Erwin

  6. putri sonde said,

    aku bangga bgt jadi putri daerah kedungjati… walaupun kami hidup di tengah2 hutan.. tp kehidupasn kami jauh lbh bahagia.
    coz… tetangga2 kami sgt kompak.. i love u kedungjati
    putri_sonde

  7. SUTARDI said,

    Stasiun Kedungjati……………..dadi inget waktu aku sekolah disik di SMP PGRI II, pulang sekolah selalu mampir ke stasiun ini..udah 7 tahun berlalu,,piye kabare satsiun ku““““

  8. dewi said,

    permisi saya mau tanya punya info ttg jadwal kereta ambarawa n harga tiketnya??? kami dr Bandung ada rencana mau kesana. Klo ada no tlp yg bisa dihubungi mksh…
    plisss bls yaaa

  9. agus setiawanto said,

    Sebanarnya route tsb masih dpt dihidupkan untuk wisata, tetapi ya biayanya yg sangat besar tentunya dan susah membebaskan tanah2 yg sudah dihuni oleh masyarakat walaupun statusnya milik PT KAI. Tapi kalau ada investor yg berani..wah bagus sekali ya karena tentu akan sangat menarik wisata dalam dan luar negeri.
    Dan masih ada lagi bekas jalan kereta yang lama2 seperti :
    Jogjakarta – Magelang – ini sudah tidak sesuai lagi dgn kondisi sekarang karena rel-nya kebanyak lewat dipinggir jalan raya yang sekarang sudal dilebarkan.
    Magelang – Parakan – bekasnya masih dan sebagian juga tertutup sawah dan rumah2
    Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo juga ada bekas routenya

  10. manahara said,

    Ambarawa kota adalah kota yang tenang, aman, indah, sejuk, damai, bersahaja…………aku ingin kembali lagi kesana, karena banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan di kotamu…..

  11. Ninik said,

    wah….ceritanya detail salut deh……
    sedikit koreksi…lintasan ambarawa – kedung jati melewati jembatan *)nganggrong
    yg benar adalah NGAGRONG….
    kebetulan saya lahir dan besar disana…setiap hari ga bosen ngeliat jembatan itu…

    sekedar tambahan : masyarakat sekitar menyebutnya “BUK PLENGKUNG”
    artinya “tembok yg berbentuk melengkung”

    thks a lot…

  12. Lusnando said,

    Weleh – weleh, ternyata yang edan kereta api bukan hanya saya ya? Disini banyak juga yang edan…! Saya sangat setuju apabila jalur kereta api Ambarawa Kedungjati dihidupkan kembali, karena akan mengurangi kepadatan di jalan raya, lebih cepat, dan yang jelas mengurangi polusi! Biarkan “Si Ular Besi” ini meliuk – liuk indah diatas punggung rel, setuju bukan? Nama saya Lusnando, hp : 081325071813, hidup Salatiga..!

  13. darsono said,

    Ada baiknya rute KA Kedungjati-Ambarawa dihidupkan lagi. Sayang, aset yang begitu besar, kini kondisinya merana. Jika rute ini bisa kembali dilalui, minimal bisa untuk sarana transportasi yang menghubungkan antar kedua daerah tersebut. Selain itu, rute ini bisa dijadikan paket wisata perjalanan. Kalau ada info, apakah Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan memasukkan rute ini dalam revitalisasi KA di Indonesia?

  14. Robertpanjaitan said,

    setuju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: